Tuesday, June 2, 2009

de Lethek Noedels


Suara derit kayu saling bergesek pada sebuah lumpang besar, sesekali suara lenguhan sapi terdengar mewarnai pabrik pembuatan mie tradional di Dusun Nengahan, Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan, Bantul, Yogyakarta. pada pabrik mie merek Margo Mulyo Cap busur panah tersebut diperjakan 30 orang pekerja yang berasal dari lingkungan sekitar bekerja sebagai pembuat mie tradisional yang lebih akrab disebut dengan Mie Lethek, menurut pemilik pabrik, Judi Muryanto (65) disebut mie lethek karena Warna mie tersebut kusam, yang bagi orang Jawa Tengah, lethek berarti kotor atau kusam.
Pada pabrik tersebut hampir Semua peralatan yang digunakan masih tradisional dengan tenaga manusia dan hewan sebagai penggeraknya, Seperti alat penggiling tepung berupa batu silinder seberat 1 ton, ditarik dengan menggunakan tenaga sapi, oven untuk memasak adonan yang menggunakan tungku semen dan kayu sebagai bahan bakarnya.  Begitu juga tenaga matahari yang dimanfaatkan untuk proses pengeringan, sedangkan pada alat press pencetak mie, dahulu menggunakan tenaga manusia namun saat ini digantikan tenaga mesin yang membuatnya menjadi lebih efesien.
proses pengerjaan mie tersebut dilakukan secara shift selama 36 jam, dimulai dengan tepung tapioka dan tepung beras yang dicampur dan digiling dengan bantuan seekor sapi untuk menarik batu silinder pada lumpang besar. setelah menjadi adonan tepung kemudian di masukkan ke dalam oven, proses pengerjaan tersebut masih berlanjut dengan proses penggilingan kembali hingga di press menjadi lilitan-lilitan mie dan dijemur untuk menghasilkan mie lethek.
Hingga saat ini, pabrik yang berdiri semenjak sembilan tahun lalu masih bertahan memproduksi 5 kwintal mie lethek yang dipasarkan di Yogayakarta dan sekitarnya. see more photos and texts