Sejauh mata memandang yang tampak hanya air keruh berwarna kecoklatan yang diselangi eceng gondok dan sedikit daratan yang ditumbuhi rumput-rumput liar. Saat matahari mulai tinggi, Samsudin (32) bersama beberapa penggembala lain memulai aktivitasnya. Mereka kerap menggembala di rawa seluas 570 km2 yang terletak di kabupaten Hulu Sungai Utara, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ketika musim kemarau tiba dan keadaan di rawa mulai surut, biasanya para penggembala melepas hewan ternaknya untuk hidup di alam bebas tanpa perlu pengawasan ekstra. Lain halnya jika pasang melanda, Samsudin harus bekerja ekstra. Ia pun hanya melepas kerbau dari Kalang (kandang yang terbuat dari kayu yang disusun di atas rawa-rawa) di pagi hari untuk kemudian mengandangkan ternaknya saat matahari tenggelam.
Jenis kerbau yang diternakkan Samsudin biasa dikenal sebagai “Kerbau Rawa”. Bagi masyarakat setempat, kerbau dengan nama ilmiah Bubalus bubalis carabenesis ini, tak lain merupakan ternak ruminansia spesifik lokal pulau Kalimantan. Kerbau rawa memiliki habitat di rawa-rawa belantara di pedalaman pulau. Populasi kerbau rawa di Kalimantan Selatan sendiri tercatat sekitar 40 ribu ekor kerbau. Secara fisik memang tidak terlalu kentara perbedaannya antara kerbau rawa dengan kerbau yang sering terlihat di darat. Hanya saja bentuk tubuh kerbau rawa cenderung sedikit gempal dengan tanduk yang melingkar.
Kerbau rawa hidup berkelompok sehingga sangat kecil kemungkinan mereka bercampur dengan kelompok kerbau lainnya. Hal ini tentu saja lebih memudahkan pengawasan ternak di ladang/lapang yang luas. Kerbau rawa biasanya lebih banyak menghabiskan waktunya dengan berenang dan mencari makan berupa rerumputan yang ada di rawa. Sambil sesekali diawasi para penggembala yang mengenakan “Jukung” (sampan kecil).
Menjadi penggembala merupakan pekerjaan utama warga pedalaman yang ada di rawa. Selain itu mereka juga menjadi nelayan dan bertani di lahan rawa lebak. Sebagian besar ternak kerbau rawa dimiliki oleh para pengusaha atau pejabat dari berbagai daerah. Sebaliknya, penduduk lokal pedalaman rawa biasanya hanya bekerja sebagai penggembala. Tak heran jika di sini berlaku sistem angon dan bagi hasil. Bagi para pemilik modal, bisnis ternak kerbau rawa cukup menjanjikan. Seekor kerbau rawa dewasa bisa dijual dengan harga mencapai belasan juta rupiah, jauh di atas harga ternak sapi. Ironisnya, sementara itu biaya pemeliharaannya sangat rendah karena dipelihara secara tradisional dan mengandalkan alam. see more photos and texts
Saturday, July 25, 2009
Koboi Rawa
Posted by
sumaryanto bronto
at
11:55 AM
1 comments
Labels: photo story
Tuesday, June 2, 2009
de Lethek Noedels

Suara derit kayu saling bergesek pada sebuah lumpang besar, sesekali suara lenguhan sapi terdengar mewarnai pabrik pembuatan mie tradional di Dusun Nengahan, Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan, Bantul, Yogyakarta. pada pabrik mie merek Margo Mulyo Cap busur panah tersebut diperjakan 30 orang pekerja yang berasal dari lingkungan sekitar bekerja sebagai pembuat mie tradisional yang lebih akrab disebut dengan Mie Lethek, menurut pemilik pabrik, Judi Muryanto (65) disebut mie lethek karena Warna mie tersebut kusam, yang bagi orang Jawa Tengah, lethek berarti kotor atau kusam.
Pada pabrik tersebut hampir Semua peralatan yang digunakan masih tradisional dengan tenaga manusia dan hewan sebagai penggeraknya, Seperti alat penggiling tepung berupa batu silinder seberat 1 ton, ditarik dengan menggunakan tenaga sapi, oven untuk memasak adonan yang menggunakan tungku semen dan kayu sebagai bahan bakarnya. Begitu juga tenaga matahari yang dimanfaatkan untuk proses pengeringan, sedangkan pada alat press pencetak mie, dahulu menggunakan tenaga manusia namun saat ini digantikan tenaga mesin yang membuatnya menjadi lebih efesien.
proses pengerjaan mie tersebut dilakukan secara shift selama 36 jam, dimulai dengan tepung tapioka dan tepung beras yang dicampur dan digiling dengan bantuan seekor sapi untuk menarik batu silinder pada lumpang besar. setelah menjadi adonan tepung kemudian di masukkan ke dalam oven, proses pengerjaan tersebut masih berlanjut dengan proses penggilingan kembali hingga di press menjadi lilitan-lilitan mie dan dijemur untuk menghasilkan mie lethek.
Hingga saat ini, pabrik yang berdiri semenjak sembilan tahun lalu masih bertahan memproduksi 5 kwintal mie lethek yang dipasarkan di Yogayakarta dan sekitarnya. see more photos and texts
Posted by
sumaryanto bronto
at
6:43 AM
1 comments
Friday, July 11, 2008
Kecil-Kecil jadi Dalang

Cendhikia Ishmatuka Srihascryasmoro. Parasnya mungil dan selalu tampak kalem. Usianya masih sangat belia, tetapi putra pasangan bapak Muryadi dan Ibu Retno Manik Trihapsari yang lahir di kota Solo, 5 September 2001 itu sudah sangat piawai memerankan ki dalang kecil di atas pentas-pentas pertunjukan wayang. Penampilannya pun selalu menarik dan meminta decak kagum penonton, seperti yang terlihat pada pentasnya yang ke-11 di acara Wayang Lintang Johar 4 yang dilaksanakan di kampung Batik, Kauman di kota Solo. Bocah berperawakan kecil tetapi lincah itu bahkan telah melanglang dunia pentas dan pertunjukan wayang di berbagai tempat di Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta.
see more photos and texts
Posted by
sumaryanto bronto
at
9:11 AM
4
comments
Monday, June 30, 2008
review my photographs

Several of my photographs has review by GlobalCompassion.com (”Seeing the World”) is to display photography that reveals life (and stories from life) in people and cultures around the world. The work of one photographer will be featured on the main page each week with a set of nine to twelve photos each. from this web, as follows:
"When I see Sumaryanto Bronto’s photography I’m reminded that talented and well trained photographers are emerging all over the world, and they are documenting their own cultures as insiders with skill and passion. We need to see their work, and I hope this website will be a place where that happens"
more complete please was opened: HERE
Posted by
sumaryanto bronto
at
11:19 AM
1 comments
Thursday, June 19, 2008
indonesian ladyboy
Thick face powder, lipstick, eye shadow, mini skirt, tanktop, wig, are prepared for along night. Rahmat a.k.a Vita start her night with the routine of putting make up on her face. Smears by smears of face powder padded to her manly face right to end of his making up routine, in front of a big mirror, Vita lighted her cigarette.
Vita, the shemale(transgender) that often stationed in the Tugu train station, Yogyakarta, admitting the start why she became a shemale (transgender)because she was a man that is more interested to his own kind, in another word, a faggot. This shemale (transgender) that have Rahmat as his real name, confessing that being a shemale is his way of life.Read more!
Posted by
sumaryanto bronto
at
9:51 AM
4
comments
Labels: photo story
Wednesday, May 21, 2008
Buddhist Vesak Celebrations

Vesak is the holiest day in Buddhism and a season of special holy significance to all Buddhists around the world. Vesak Full Moon is the holiest of all the full moon days. On this day are celebrated the birth, the Enlightenment, and the death of the Buddha.
In Indonesia Vesak Day called Waisak, Thousands of Buddhist monks and followers meditate for the moment of Vesak at Borubudur temple and Mendut temple. Buddhists in Indonesia celebrate Vesak Day or 'The day of Buddha's birth, his enlightenment and his reaching of nirvana'. Buddhism is one of five official religions in the world largest Muslim populated nation. Read more!
Posted by
sumaryanto bronto
at
9:56 AM
5
comments
Labels: Borobudur, buddha birthday, budha, budhist, vesak day, waisak
Friday, May 2, 2008
RAMAYANA BALLET , the classic Hindu tale of honour, magic and courage.

Ramayana Ballet is based on the epic of Ramayana, which it's story is depicted on the wall of Prambanan tample, the show tells about the fight between the evil symbolized by Rahwana, malicious king of Alengka and the good, represented by Sri Rama, Price of Ayodyapala.
The entire story is presented in a series of dance movements done by dancers, Gamelan orchestra is also played to make the show even more entertaining by gamelan music. There is no dialog among the dancers. The only storyteller is the “sinden” (female singer) who describes the coarse of the story through Javanes songs. the Ramayana ballet usually ends up with Rama and his followers wining back Shinta from the clutches of Rahwana, but for me Ramayana Ballet started from backstageRead more!
Posted by
sumaryanto bronto
at
1:46 PM
2
comments
Labels: backstage, dance, dancing, photo story, ramayana ballet
