Thursday, January 24, 2008

honored as best of category Democracy and Governance


Apparently for a long time very much (around November 2007) when I was joining the training photojournalist at jakarta, at that time I was reading enter magazine in that magazine I read about one Annual International Photoshare Photo Contest
According to this magazine:
photoshare's Annual Photo Contest, every year between August and December, is a popular international event encouraging photographers to share work for charitable and educational use in return for a chance to win a prize. Participants contribute to a growing collection of development-oriented photography, helping non-profit organizations communicate health and development issues worldwide.
And I tried to send my photojournalist (Around 4 photographs)
Guarded in January a letter entered my email...
YESSSS!! One of my photos was recently honored as best of category Democracy and Governance by Johns Hopkins-photoshare, just visit HERE

Friday, January 18, 2008

TATO, lifestyle seni melukis tubuh



Seperti pada sebuah kamar operasi, satu orang tengah duduk berbaring menahan kesakitan dengan disinari lampu sorot sementara 2 orang dengan sarung tangannya mulai bekerja dengan jarum dan tinta yang digerakkan motor-tape.sebuah gambaran betapa seriusnya mereka!!
TATO simbol kriminalitas atau lifestyle?

sering saya melihat sebuah berita kriminalitas di stasiun tv, TATO lah yang menjadi bagian frame-frame penayangan berita, WHY? apakah saat ini tato masih identitik dengan dunia kriminalitas?
cara pandang yang KUNO!! timbul dalam benak saya....
saya melihat tato murni sebagai seni yang indah dan enak dipandang mata dan ketika saya melihat tato dilngkungan keseharian saya lebih pada sebuah lifestlye

so, kapan saya diTATO?
wah mikir dua kali mengingat proses pembuatan tato itu tidak mudah. Butuh ketahanan tubuh yang prima ketika proses penatoan tubuh dilakukan dan siap menerima sangsi moral dari masyarakat disekitar saya.
tato bagi saya hanya cukup sebagai objek beberapa foto saya, seperti pada sebuah malam dimana saya menghadiri acara forum bergambar di sebuah club yang terletak dibawah tanah....
ini pertama kalinya saya datang di club tersebut, meskipun sudah 8 tahun dijogja.
suara-suara bising dan teriakan-teriakan menyemangati seorang pria yang duduk dibangku "kesakitan" menahan perihnya jarum-jarum yang menusuk kulit untuk meninggalkan tinta. sekitar 30 menit usai sudah penderitaan pria tersebut,walhasil dua buah tato menempel di lehernya!!

Tuesday, January 1, 2008

PORTRAITURE, person at work






“In photography, the smallest thing can become a big subject, an insignificant human detail can become a leitmotiv. We see and we make seen as a witness to the world around us; the event, in its natural activity, generates an organic rhythm of forms.” Henri Cartier-Bresson (France, 1908–2004)

same with Portraiture, visual representation of individual people, distinguished by references to the subject's character, social position, wealth, or profession. Just about anyone who can aim a camera can make a portrait. It goes without saying that some do it better than others. Top portrait photographers do it all the time, reliably producing outstanding portraits with just about every subject they photograph. Why is that? What do they know and what do they do that makes their portraits special? The answer to both these questions is “quite a bit,” because there is lots to know about a lot of things in order to produce a great portrait. i have Portraiture project about person at work, The world of work is a fascinating subject for photographers and, as most of us work at some point in our lives, it affects almost everyone on the planet. Many of the pictures a photographer is assigned to shoot involve people working in some way.
some my project about person at work can see HERE





Wednesday, December 26, 2007

ONE LOVE, Care for Others... You and I Can... [photography exhibition]



Saya dan sejumlah fotografer Indonesia saat ini tengah berpameran foto dengan tema:

Care for Others... You and I Can...
photography&fundraising exhibition

22 December 2007 - 2 January 2008
Senayan City. Ground Floor 10
Kurator :
Merwan Yusuf, Oscar Matuloh
pemarkarsa:
UNIFEM (United Nations Development Fund for Women)
merupakan badan PBB yang menangani permasalahan dan pemberdayaan perempuan
Acara tersebut bertujuan menggalang dana untuk melawan kekerasan terhadap perempuan.

sejumlah karya fotografer-fotografer Indonesia diantaranya:
I A.lucky Dj I Ahmad Alberd I Ali Lutfi I Ami Ramdhaeny I Siti Amiah I Antariksa I Arbain Rambey I Bambang Tri Atmojo I Desi Wulandari I Chitra Frahamdiyani I Diah KW I Dono R Sardadi I Edial Rusli I Gembong R I Gito Nirboyo I Layung Buworo I Malahayati I Nico R Haryono I Ratna Juwita I Ray Bachtiar I Ricky Adrian I Riza Marlon I Rony Bagus K I Sihol Sitanggang I Ng Swan TI I Wawan H Prabowo I Sumaryanto Bronto I Yuniadhi Agung I Muradi I

WARIA, Stereotipe negatif ?

Waria, banci, bencong, homoseksual, entah apalagi sebutan mereka, banyak wacana homoseksual dilontarkan di dalam masyarakat, yang kemudian sering terungkap adalah sudut pandang dari masyarakat yang mengatakan bahwa homoseksual itu haram, bertentangan dengan agama, penyakit kejiwaan dan penyimpangan seksual.Pada kenyataannya kaum homoseksual sama dengan kaum heteroseksual, mereka berperilaku sama dengan kaum heteroseksual lainya, yang membedakan hanya orientasi seksual mereka. Stigma ini muncul karena di Indonesia homoseksual dianggap sebagai Stereotipe negatif, masyarakat kelas dua. Bagi mereka homoseksual merupakan sebuah pilihan,
saya bukan seorang homoseksual tetapi saya peduli dan sadar atas kehadiaran mereka ditengah-tengah saya, dan saya bersikap menerima mereka apa adanya tanpa melakukan tindakan diskriminasi
foto-foto waria ini saya diambil 3 tahun lalu disebuah perkampungan yogyakarta, bersama NGO yang mendampingi mereka. disana terbentuk komunitas waria-waria yang berbaur bersama warga masyarakat sekitarnya, kebanyakan dari mereka bekerja sebagai seks komersil, melalui pendampingan NGO mereka diharapkan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak, sampai saat ini project NGO tersebut masih terus berlangsung

Tuesday, December 25, 2007

PENARI LATAR Orang kedua dipanggung hiburan

Wanita-wanita cantik semampai dan pria-pria gemulai berlenggak-lenggok diatas sebuah pangung hiburan mengiring seorang penyanyi. Bangkitnya Industri hiburan Indonesia yang ditandai kemunculan banyaknya stasiun televisi dan menjamurnya tempat-tempat hiburan, melahirkan pelaku-pelaku bisnis hiburan, salah satunya kehadiran mereka, group penari latar.
Paras ayu dan rupawan bukan semata-mata modal menjadi seorang penari latar, mereka dituntut memiliki skill dan teknik menari serta latihan terus-menerus untuk menghasilkan gerakan tari, Gerakan-gerakan tari yang dilakukan para penari latar umumnya dikategorikan tari modern. yang mementingkan penghayatan bentuk-bentuk, improvisasi dan komposisi, dengan penambahan unsur-unsur gerakan tari tradisional yang menciptakan gerakan modern dinamis.
Dibalik kerja keras mereka dalam menciptakan gerakan-gerakan tari, kehadirannya pada sebuah panggung hiburan sebatas pelengkap acara, letaknya sebatas dibelakang dan dipinggir untuk mengiringi seorang penyanyi, dengan kata lain Mereka menjadi orang kedua dipangung hiburan, meskipun demikian, kehadiran penari latar mempermanis penampilan sang penyanyi dan semakin memperindah tampilan panggung.